Kamis, 22 Agustus 2013

Raja Arab Bantu Evakuasi Pria Seberat 610 Kilogram




RIYADH - Seorang pria asal Arab Saudi bernama Khalid Mohsin Shaeri memiliki bobot tubuh seberat 610 kilogram (kg). Berat badannya yang sangat mengkhawatirkan ini membuat Raja Arab Saudi yang kemudian mengirimkan pesawat untuk membawanya ke Rumah Sakit.

Khalid, adalah salah satu orang terberat di dunia, karena bobot tubuhnya yang mencapai 610 kilogram, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sejak dua setengah tahun silam.

Raja Abdullah menyewakan sebuah pesawat untuk membawanya ke Rumah Sakit Raja Fahd Medical City di Riyad, Arab Saudi, guna memeriksakan kondisi tubuhnya.

Kementerian Kesehatan Arab Saudi bekerja sama dengan pertahanan sipil dan Palang Merah Saudi untuk mengatur evakuasi pasien. Untuk mengeluarkan Khalid, petugas harus membongkar sebagian rumahnya agar dia bisa dibawa keluar dari lantai dua.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan bahwa pria yang berusia 20 tahun ini akan dibantu untuk menurunkan berat badannya. Seperti diketahui, semua biaya pengobatannya itu telah dibayar oleh Raja Abdullah.

"Kami telah menunggu saat ini untuk waktu yang lama, Raja, semoga Allah melindunginya dan memberinya umur panjang, telah memberikan instruksi kepada Kementerian Kesehatan untuk melakukan semua pengobatan dengan cara yang aman,” ujar Khalid, seperti dikutip Daily Mail, Selasa (20/8/2013).

Menteri Kesehatan Dr Abdullah Al-Rabeeah, mengatakan bahwa hal ini adalah sikap kemanusiaan dari Raja untuk mengobati warganya.

"Ini adalah salah satu sifat Raja bahwa dia selalu ada setiap kali seseorang membutuhkannya,” ungkap Abdullah Al-Rabeeah. (faj)

TIMUR TENGAH

Iran Bela Suriah Terkait Serangan Senjata Kimia




DUBAI - Ulah Pemerintah Suriah yang diduga menggunakan senjata kimia dalam menyerang kelompok oposisi, tidak dipercaya oleh Iran. Menurut Iran, tidak mungkin Pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad melakukan serangan itu.

"Pemerintah Suriah tidak mungkin berada di balik dugaan serangan yang menggunakan senjata kimia di pinggiran Kota Damaskus," ujar Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/8/2013).

"Bila penggunaan senjata kimia memang benar, maka pelakunya adalah kelompok teroris. Karena mereka terbukti mampu melakukan tindakan tersebut," lanjutnya.

Tuduhan penggunaan senjata kimia tersebut dilayangkan oleh pihak oposisi Suriah yang menyebutkan serangan itu terjadi di Damaskus. Tetapi tidak ada konfirmasi dari pihak independen mengenai klaim tersebut.

Sementara pihak aktivis Suriah memastikan bahwa serangan itu menewaskan perempuan dan anak-anak. Korban tewas akibat gas saraf yang digunakan oleh pasukan loyalis Assad diduga sudah menewaskan sekira 1.300 jiwa.

Roket berisi gas beracun itu menghantam wilayah Damaskus di Ain Tarma, Zamalka dan Jobar menjelang Subuh, Rabu 14 Agustus 2013 waktu setempat. Namun tidak ada satu pun pejabat Pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad yang mengakui serangan kimia tersebut.

Senjata kimia yang digunakan diduga berupa gas sarin dan dilesakan di saat warga tengah tertidur. Korban yang terkena tembakan senjata kimia itu diketahui menderita pembengkakan pada pupil mata, kaki dingin dan mulut yang keluar busa. (faj)

Selasa, 20 Agustus 2013

KING OF INTI5:

  • RAHMAD ARDIANSYAH P.A

CREW:

  • Vellia Hadisty
  • Sylvia Anggraini
  • Wanda Sari
  • Yugianto
  • Zidny
  • Vicky Geraldo

Pemerintah Mesir Akui Bunuh Tahanan Ikhwanul Muslimin


Kondisi Mesir saat rusuh (Foto: CNN)Kondisi Mesir saat rusuh (Foto: CNN)
KAIRO - Pemerintah Mesir mengakui bahwa pihak keamanan mereka melakukan penyerangan yang menewaskan 36 anggota Ikhwanul Muslimin, yang ditahan di Penjara Abu Zaabal. Menurut militer, kematian itu adalah konsekuensi upaya tahanan yang ingin melarikan diri.

Berita mengenai kematian para tahanan Ikhwanul Muslimin ini merebak di saat protes pendukung mantan Presiden Mesir Mohammad Morsi mulai mereda. Protes yang terjadi sejak pekan lalu, telah menewaskan lebih dari 1.000 jiwa yang sebagian besar korban adalah pendukung Morsi dan Ikhwanul Muslimin.

Pada Minggu 18 Agustus 2013, kelompok Ikhwanul Muslimin memutuskan untuk meredakan ketegangan. Mereka membatalkan beberapa rencana protes melawan pemerintah baru bentukan militer Mesir tersebut.

"Kematian mereka merupakan konsekuensi dari upaya melarikan diri dari kelompok Islamis (Ikhwanul Muslimin)," pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir, seperti dikutip Associated Press, Senin (19/8/2013).

Mengenai kematian 36 tahanan Ikhwanul Muslimin itu, Pemerintah Mesir mengeluarkan detail keterangan yang rancu. Mereka sempat mengatakan, korban tewas akibat menghirup gas air mata ketika hendak melarikan diri. Namun beberapa saat kemudian, mereka menyebutkan korban sudah tewas di dalam penjara ketika dievakuasi.

Sementara pihak Ikhwanul Muslimin menyebutkan kematian dari 36 orang itu adalah sebuah pembunuhan. Mereka menyebutkan jumlah korban mencapai 52 jiwa dan ditembaki peluru tajam serta gas air mata, ketika masih berada di dalam mobil tahanan.

Insiden ini merupakan pembunuhan massal keempat yang terjadi sejak militer mengendalikan pemerintahan pada 3 Juli 2013 lalu. Tetapi, ini yang pertama kalinya korban tewas berada dalam tahanan pemerintah.

AS Kecam Penahanan Pemimpin Spiritual Ikhwanul Muslimin


Mohamed Badie (Foto: AFP)Mohamed Badie (Foto: AFP)
KAIRO – Amerika Serikat (AS) mengecam penahanan pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin, Mohammad Badie. Namun, AS masih menolak mencabut bantuan militernya untuk Mesir.

“Penangkapan Badie menunjukkan militer Mesir tidak menghormati HAM. Kami ingin melihat mereka mengubah tindakannya,” ujar juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, seperti dikutip Reuters, Rabu (20/8/2013).

“Pelanggaran HAM tidak berhubungan dengan bantuan militer kami kepada Mesir,” lanjutnya.

Presiden Barack Obama terus didesak untuk mencabut bantuan terhadap Mesir. Aksi itu akan diharapkan dapat membuat militer Mesir jera.

“Kami akan mengumumkan pencabutan bantuan militer jika keputusan itu memang sudah dikeluarkan,” tutur Earnest.

Militer Mesir banyak melakukan pelanggaran HAM semenjak kudeta terhadap Mohamed Morsi bulan lalu. Mereka tidak segan-segan membunuh anggota Ikhwanul Muslimin baik dalam demonstrasi maupun yang mereka tahan.